Pengalaman Pertama Kali Naik Gunung Prau Dieng #1

by - 10:10:00 PM

Di awal Januari, tiba – tiba ada pesan line masuk. Dari Nisul yang ngajakin jalan – jalan ke Wonosobo. Saya pikir kita bakal sekalian muncak, eh gataunya hanya ke tempat wisata yang ada disana. Rencananya kami akan pergi di tanggal 4, entah kenapa malah berubah jadi tanggal 3. Dan tiba – tiba juga rencana awal kami malah pergi…muncak. Gimana ijinnya ya ke orang tua, pikir saya waktu itu. Intinya rencana awal kami tetap pergi muncak, bila cuaca tidak mendukung ya kami hanya pergi ke tempat wisata yang ada disana saja.

Kami berkumpul di kosan Nisul. Oh iya finally bisa juga jalan - jalan sama temen blogger ahay! (jangan lupa visit blognya nisul nisowl.blogspot.co.id ya guys!). Nisul bilang bahwa tanggal 5 Januari 2017 Gunung Prau ditutup selama 3 bulan. Namun sangatlah bersyukur karena kami berangkat di tanggal 3. Setelah semuanya siap, kami bertiga (Saya, Nisul, Deandra) dijemput oleh Rico dan Fajri. Dengan melewati jalan Sumowono yang bikin mual setengah mati, akhirnya sampailah kami ke Wonosobo dengan 3 jam perjalanan. Kami mampir dulu ke Rumah Aziz sekalian istirahat dan menunggu Fajar dari Banjarnegara. Alhamdulillah kami juga disuguhi makan sama Ibunya Aziz, yummy parah! Terimakasih Jiz haha! Setelah makan, kami pun melakukan persiapan untuk muncak seperti minjem sleeping bag, matras, dan tenda. Setelah semuanya siap akhirnya kami segera menuju ke basecamp Gunung Prau.

Ada beberapa anak yang memang gamau muncak, pengennya cuma jalan – jalan santai. Berhubung saya belum pernah muncak dan sepertinya ini merupakan satu – satunya jalan saya untuk muncak pertama kalinya (dan sepertinya juga ini yang terakhir karena bakal dimarahin orang tua lol) saya pun nurut – nurut aja. Ternyata Alhamdulillah cuaca sangatttt mendukung. Padahal akhir – akhir ini sering turun hujan, kata Aziz pun waktu pagi di Wonosobo juga hujan deras.

Kami melakukan persiapan di basecamp hingga jam 17.30, setelah itu barulah kami akan naik. Sebelum muncak, kami harus melakukan registrasi dulu dan membayar Rp 10.000,00. Dengan registrasi, kami pun juga bisa tau ada berapa orang yang sudah naik ke atas. Pada saat itu sudah 50an orang yang naik ke atas. Soooo, here we go! Medan pertama kami adalah melewati tangga, dan itu sangat melelahkan hingga membuat saya mikir “tau gitu di rumah aja ya enak huhu.” Tapi gapapa apapun yang terjadi harus semangat! #ONFIREMODEON. Tiba – tiba juga muncul anggapan lain, “tau gitu aku tiap hari latian lari dulu di Tri Lomba Juang ya huhu.” (konon katanya dengan melakukan lari akan memperenteng kaki kita ketika muncak)

Untuk menuju ke Prau, kita akan melewati beberapa gubuk kosong yang fungsinya bisa kita gunakan untuk beristirahat sejenak. Sembari menunggu adzan maghrib, kami pun istirahat disana. Adzan maghrib ketika dipuncak juga terdengar lama. Ketika satu masjid selesai, akan ada sautan dari masjid lain, begitu juga dengan seterusnya. Tapi gapapa, tandanya kami disuruh istirahat lebih lama #dasarlemahmodeon. Sembari beristirahat, kami juga tuker – tukeran cemilan penguat energi masing – masing. Ada yang bawa coklat, ada yang bawa sugus, dan saya membawa gula jawa (mungkin sewaktu saya pergi mama bakal mikir kemana aja gula jawanya kenapa bisa berkurang banyak?!).

Hari pun semakin gelap, jarak antara pos satu dengan pos yang lainnya cukup jauh. Kenapa ga nyampe – nyampe yaAllah… Namun, sangatlah bersyukur karena kali ini teman – teman yang ikut adalah anak yang selaw. Jadi ketika ada yang ngerasa ga kuat, kita bisa istirahat dulu, atau mungkin yang ga kuat bisa jalan paling depan. Selain itu juga bisa tuker – tukeran tas, ketika ada yang ngerasa bawaannya banyak, bisa tukar dengan yang bawa barangnya dikit. Swupe dwupe Alhamdulillah. Selain itu kami dapat menjumpai para rekan yang ingin naik ke Gunung Prau juga. Mereka kadang bilang, “Yuk Mas Mbak” dan kami pun terkadang menjawab, “Mari Mas Mbak”. Terkadang juga pada tanya asal darimana, makanan favorit apa, jomblo atau nggak. Hehe bercanda. Karena hari sudah malam, jalanan pun semakin gelap. Kami hanya mengandalkan cahaya senter, selain itu juga rabaan tangan.

Semakin keatas, rintangan yang dihadapi juga kian sulit. Tapi tak sesulit mengerjakan ulangan Fisika kok, tenang aja #lahcurhat. Semakin keatas, kami akan melewati akar – akar dan juga bebatuan. Karena saya ga pake sandal gunung, hanya memakai sepatu olahraga, jalanan yang dilewati cukup licin. (so, buat kalian yang merasa pemula seperti saya dan pengen muncak, saran saya pake sandal gunung aja ya karena kalo pake sepatu bakal licin:”)). Selain itu, semakin keatas juga udara semakin dingin. Kabut pun mulai turun, sehingga cahaya dari senter pun juga tak terlihat dengan jelas.

Capek banget sih, kenapa ga sampe – sampe ya? Sempet lemes dan takut kalo itu adalah hari terakhir saya hidup, tapi apapun itu pasrah aja sama Allah. Karena apa yang dimiliki sekarang pun juga itu milik Allah. Yang terpenting, banyak – banyak doa saja pada saat itu agar diberi umur panjang.

Kira – kira saat itu pukul 22.00 kami sampai puncak. Omg, finally God! Jalanan yang kita lewati cukup gelap, jadinya ga bisa lihat apa – apa. Kami pun mulai memasang tenda dan memasak untuk makan malam. Setelah tenda siap, kami mulai memasak mie kuah dengan sosis. Eh ketika kami masak, tiba – tiba hujan turun deras. Akhirnya kami pun langsung masuk tenda. Kaki mulai cenat cenut, baju basah banget, dan ditambah udara yang makin dinginnn! Makanan pun sudah jadi, dan akhirnya kita makan di dalam tenda dengan lahapnya. Yass, kami lapar.

Dikarenakan hujan yang tak kunjung reda, kami mencoba untuk tidur dengan menggunakan sleeping bag. Udaranya makin dingin dan kaki mulai sakit, jadinya tidur ke arah manapun juga tak nyaman saat itu. Tapi kalo ga tidur, yang ada malah kaki tambah sakit. Akhirnya mau tak mau dipaksakan untuk tidur.
Waktu malam sekitar jam 2 saya kebangun. Kedinginan saat itu. Akhirnya saya ambil kaos kaki. Iya, make 3 kaoskaki dan masih kedinginan. Mau tidur hadap kanan kaki sakit kedinginan, hadap kiri juga sama, akhirnya saya merem – meremin dan alhamdulillah tidur juga.

Tak terasa hari mulai pagi. Dari atas, kita bisa melihat banyak macam. Dari lampu rumah yang berkelap kelip belum dimatikan, kabut yang mulai menghilang, dan matahari yang mulai muncul dari balik pegunungan. MasyaAllah, bagus banget parah. Meskipun melihat matahari terbit sambil nahan dingin, gigi bergetar terus sejak bangun tidur, dan kaki yang makin cenat cenut saking pegelnya, tak membuat menyesal melihat semua yang ada di depan mata saat itu. Lebih dekat pula. Benar – benar fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan? Biasanya ngelihat pemandangan seperti itu di foto orang, di kalender, atau bahkan berdasar cerita dari para teman. Sekarang, bisa lihat sendiri. Memang puncak merupakan hadiah dari manusia yang berjuang. Hazeek berjuang, berasa perang lol.

Tiba – tiba ada keinginan ingin buang air kecil. Tapi ketika mulai diantar teman, orang pun banyak berlalu lalang. Akhirnya saya tahan sampai bawah. Jadi tipsnya bila ingin buang air kecil, usahakan ketika malam hari. Karena apa? Orang – orang masih tidur, meskipun bangun orang – orang pasti tak akan melihat.
 Negeri di Atas Awan

Ketika matahari makin keatas, suhu di daerah tersebut berubah menjadi lumayan hangat. Yaiyalah, namanya juga matahari. Setelah cukup puas menikmati sang fajar, akhirnya kami mulai memasak. Menu di hari itu tetep, yaitu mie. Sejak saat itu saya berjanji untuk tak makan mie hingga seminggu kedepan. Namun mie di pagi itu terasa spesial, karena makannya bareng kamu. Iya, kamu. Ga deng, karena makannya sama telur dan sosis goreng. Mie di hari itu juga tak hanya mie kuah, namun juga ada mie goreng. Selain itu kami juga susu coklat panas. Saya hanya cukup minum air putih saja, karena susu panas di pagi hari bikin sakit perut #edisicurhat.

Karena kami masih belum puas untuk melihat sekeliling Gunung Prau, akhirnya kami para ciwi – ciwi mulai jalan – jalan. Para cowo ga ikut karena mungkin mereka bosen kaliya? Secara, Fajar udah 7 kali naik Gunung Prau. Awsem! Ketika kami jalan – jalan, kami menjumpai rumput. Fyi, rumput merupakan kasur ternikmat di siang hari. Hangat dan empuk. Enaaak parah! Benar – benar, nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

Kami bertiga kembali ke tenda, dan tak disangka semua kompor dan sisa makanan kami telah dibersihakan oleh Fajar, Rico, Fajri. Omg soooo baik sekali. Kami mulai merapikan tenda dan bersiap untuk pulang. Melewati jalanan yang semalam telah dilewati dapat melihat bahwa, “seriusan medannya kayak gini?” Batunya terjal banget coy parah. Sempat terpleset berkali – kali. Nah ini, jangan lupa pake sandal gunung, guna banget! Fajar mulai menunjukan jalan yang harus dipijak. Jalannya cepet, tiba – tiba udah di depan lalu menunjukan jalan. Yaiyalah udah ke Prau 7 kali berasa kayak mau main ke rumah temen aja:”). 

Rumput adalah tempat terenak saat itu.

Saat pulang kami inginnya jalan lebih santai, minum lebih banyak dan bisa bebas beristirahat. Barang bawaan kami juga tak begitu berat karena air dan makanan sudah mulai habis. ((oh iya, jangan lupa sampah – sampah dibawa kebawah dan dibuang ke tong sampah dekat basecamp ya guyz)). Dikarenakan ingin buang air kecil dan kaki makin menjadi – jadi merupakan salah satu motivasi kami untuk segera turun ke bawah. Segera ke basecamp. SESEGERA MUNGKIN. Kalau disana ada jasa flying fox, mungkin saya adalah salah satu penggunanya.

Di sepanjang jalan menuju jalan pulang, kami banyak menjumpai para pendaki yang memang baru mendaki. Di malam itu saat kami mendaki, saya bersyukur karena tidak menjumpai para pendaki yang turun. Karena hal tersebut memicu demotivasi. Mampus, apaan artinya tuh. Ya semacam kurangnya motivasi dan bisa menimbulkan rasa pesimis karena teman – teman yang lain bisa pulang rumah, sedangkan saya? Naik sampe pos 2 aja ga kelar – kelar.

Ketika sampai di basecamp, rasa syukur memang ga ada habisnya. Karena apa? Apalagi kalau bukan akhirnya saya bisa buang air dengan lega. Kita mulai duduk – duduk di basecamp untuk istirahat. Kaki pun mulai cenat – cenut bila ingin duduk. Sama halnya dengan Rico, yang tak bisa bangun lagi karena ke-enakan duduk. Sebelum itu, kami harus lapor lagi bahwa kami telah sampai. Mas - masnya bilang, katanya beruntung banget malam itu bisa dapat sunrise, padahal di malam kemarin selalu ada kabut. Kata Fajri Fajar gitu. Super duper terimakasih ya Allah:')

Sembari istirahat, kami juga mampir ke warung yang ada disana, ngopi – ngopi dikit untuk memperhangat diri juga bisa. Bila ingin makan gorengan disana juga bisa, namun sayang kebanyakan gorengan disana banyak yang dingin atau bahkan melempem. Tapi don’t worry, karena ibu penjualnya siap untuk menggoreng lagi. Mantaaaff! Disana saya dan Nisul memesan coffeemix. Nisul yang hangat dan saya yang benar – benar panas. Iya, ceritanya masih kedinginan. Sembari minum – minum akhirnya kami menyadari, kok bisa gitu ya naik Gunung? Dan sekarang udah nyampe aja di basecamp. Alhamdulillah, terimakasih yaAllah. Terimakasih Fajar, Fajri, Deandra, Nisul, tanpa kalian mungkin saya hanya seonggok daging berlemak yang tak kan pernah menikmati ciptaannya Allah macam ini. #melankolismodeon. Dan..tenang saja, setelah saya pulang dari Wonosobo pasti saya akan tetap bilang ke Mama. Setelah ngomong, ekspresi Mama kaget saat itu, saya langsung dijitak. Tapi tetep, jitakan kasih sayang. Jangan ditiru ya, sangat tidak baik.

Malamnya kami berniat untuk istirahat di rumah Budenya Nisul. Istirahat sekitar 2 jam, akhirnya kami pergi lagi untuk mencari makanan. Kami memang anaknya gamau rugi wkwk jadi waktu kosong dihabiskan untuk jalan – jalan. Karena di wonosobo terkenal dengan sebuah Mie Ongklok, maka kami akan mencoba mie tersebut. Sumpe, habis dari kota ini saya berjanji untuk tak makan mie lagi. Sehat – sehat ya lambung dan ususku.

Setelah makan mie akhirnya kami berbincang sebentar sembari bermain kartu. Ngobrolin tentang, “kemanakah kita besok pergi?” Lalu kami memutuskan untuk tidur. Sehat – sehat juga ya, kakiku. 

You May Also Like

3 komentar

Haloooo! Terimakasih udah menyempatkan waktu untuk membaca. Jangan lupa tinggalkan komentar ya! :D